Senin, 24 Januari 2011

Paradigma_____

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG
Di dalam sejarah ilmu pengetahuan sangat bermanfaat untuk mendapatkan dan mengonstruksi ilmu pengetahuan sehingga mendapatkan kegiatan ilmiah yang sesungguhnya. Peranan sejarah dalam merekam ilmu pengetahuan merupakan titik awal pengembangan ilmu yang berupa rekaman akumulasi konsep untuk melihat bagaimana hubungan antara pengetahuan dengan mitos dan takhayul yang berkembang. Hal-hal baru yang ditemukan pada suatu masa menjadi unsur penting bagi pengembangan ilmu di masa berikutnya.

Ada beberapa macam manusia berpikir tentang ilmu pengetahuan, seperti : tentang apa yang menjadi bahasan ontologi, tentang pengetahuan dalam kebenaran sejati menjadi bahasan epistemologi, dan tentang nilai yang menjadi bahasan aksiologi.
Epistemologi merupakan salah satu objek kajian dalam filsafat. Epistemologi secara sederhana dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mengkaji asal mula, struktur, metode, dan validitas pengetahuan. Berdasarkan defenisi diatas dapat diartikan, bahwa epistemologi berkaitan dengan masalah-masalah yang meliputi :
a) Filsafat, yaitu cabang filsafat yang berusaha mencari hakikat dan kebenaran pengetahuan.
b) Metode, yaitu metode epistimologi bertujuan mengatur manusia untuk memperoleh pengetahuan.
c) Sistem, yaitu sistem epistimologi bertujuan memperoleh realitas kebenaran pengetahuan itu sendiri.
Dalam masalah utama dari epistemologi ini adalah bagaimana Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. begitu luasnya tentang epistemologi dalam ruang lingkupnya maka bahasan ini akan menjelaskan tentang keunggulan paradigma, anomali dan munculnya penemuan sains, krisis dan munculnya teori sains.

I.2. RUMUSAN MASALAH
a. Apa keunggulan dari Paradigma?
b. Bagaimana anomali dan muculnya penemuan Sains?
c. Apa yang menyebabkan krisis dan muculnya Teori Sains?


I.3. TUJUAN MASALAH

Sebagaimana masalah yang telah diungkapkan di dalam perumusan masalah, maka tujuan dari makalah ini adalah untuk menjelaskan tentang bagaimana peran dan sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan yang dapat mengubah wajah, tatanan dunia, dan peradaban dalam kehidupan manusia tersebut pada keunggulan paradigma, anomali dan munculnya penemuan sains, serta krisis dan munculnya teori sains.


BAB II
PEMBAHASAN

Sebelum memasuki dan membahas tentang keunggulan paradigma, anomali dan munculnya penemuan sains, serta krisis dan munculnya teori sains. Akan diperkenalkan telebih dahulu tentang Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt sebagai salah satu sumber utama rujukan dalam penulisan makalah ini.

2.1. PROFIL THOMAS KUHN
Thomas Kuhn lahir di Cincinnati, Ohio, seorang insinyur industri dan memperoleh gelar Bachelor Science gelar MS dan Ph.D untuk bidang fisika di Harvard University pada tahun 1943. Thomas S.Kuhn belajar tiga tahun di Junior Fellow Harvard yang penting dalam memungkinkan dia untuk beralih dari fisika ke sejarah (dan filsafat) ilmu pengetahuan. Kemudian dia mengajar kursus dalam sejarah ilmu pengetahuan di Harvard dari tahun 1948-1956. Setelah meninggalkan Harvard, Kuhn mengajar di Universitas California, Berkeley baik di departemen filsafat dan sejarah yang bernama Guru Besar Ilmu Sejarah pada tahun 1961. Di Berkeley, Thomas Kuhn menulis dan menerbitkan karyanya paling dikenal dan paling berpengaruh yaitu: Struktur Scientific Revolutions pada tahun 1962. Pada tahun 1964, ia bergabung Princeton University sebagai Profesor Filsafat dan Sejarah Sains. Pada tahun 1979, Dia bergabung dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) sebagai Professor Filsafat.

2.2. DEFINISI PARADIGMA

Paradigma dapat ditafsirkan bermacam-macam sesuai dengan sudut pandang masing-masing orang. Ada yang menyatakan bahwa paradigma merupakan suatu citra yang fundamental pada pokok permasalahan dari suatu ilmu. Paradigma menggariskan apa yang seharusnya dipelajari, pernyataan-pernyataan apa yang seharusnya dikemukakan dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya (Thomas S. Khun, 2008). Sedangkan dalam kamus filsafat paradigma diartikan sebagai:
1. Cara memandang sesuatu.
2. Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan. Dari model-model ini fenomena dipandang dan dijelaskan.
3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan dan atau mendefinisikan sutau study ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu.
4. Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

Thomas Kuhn dalam bukunya yang berjudul ”The Structur of Science Revolution ”, menjelaskan tentang paradigma dalam dua pengertian yaitu:
a) Di satu pihak paradigma berarti keseluruan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu.
b) Di pihak lain paradigma menunjukan sejenis unsur pemecahan teka-teki yang kongkrit yang jika digunakan sebagai model, pola, atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang secara eksplisit sebagai menjadi dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas.

Secara singkat pradigma dapat diartikan sebagai keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena). Dengan demikian paradigma ibarat sebuah cendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak untuk menjelajahi dunia dengan wawasannya.



2.3. TAHAP-TAHAP ILMU PENGETAHUAN
Skema progress sains menurut Khun adalah sebagai berikut: Pra paradigma - Pra Science - Paradigma Normal Science - Anomali - Krisis Revolusi - Paradigma Baru - Ekstra Ordinary Science- Revolusi.Tahap – tahap perkembangan ilmu dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

2.3.a. Tahap Pra paradigma & Pra Science.
Pada stage ini aktivitas-aktivitas ilmiah pada stage ini dilakukan secara terpisah dan tidak terorganisir sebab tidak ada persetujuan tentang subjeck matter, problem-problem dan prosedur di antara para ilmuwan yang bersaing, karena tidak adanya suatu pandangan tersendiri yang diterima oleh semua ilmuan tentang suatu teori (fenomena). Dari sejumlah aliran yang bersaing, kebanyakan mereka mendukung satu atau lain varian dalam teori tertentu dan di samping itu ada kombinasi dan modifikasi lain yang masing-masing aliran mendukung teorinya sendiri-sendiri. Sehingga sejumlah teori boleh dikatakan ada sebanyak jumlah pelaksanaannya di lapangan dan setiap ahli teori itu merasa wajib memulai dengan yang baru dan membenarkan pendekatannya sendiri.
Hal semacam ini berlangsung selama kurun waktu tertentu samapai suatu paradigma tunggal diterima oleh semua aliran yang dianut ilmuan tersebut dan ketika paradigma tunggal diterima, maka jalan menuju normal science mulai ditemukan.Dengan kemampuan paradigma dalam membanding penyelidikan, menentukan teknik memecahkan masalah, dan prosedur-prosedur riset, maka ia dapat mengatasi ketergantungan observasi pada teori.

2.3.b. Tahap Paradigma Normal Science.
Para tahap ini, tidak terdapat sengketa pendapat mengenai hal-hal fundamental di antara para ilmuan sehingga paradigma tunggal diterima oleh semuanya. Paradigma tunggal yang telah diterima tersebut dilindungi dari kritik dan falsifikasi sehingga ia tahan dari berbagai kritik dan falsifikasi. Hal ini menjadi ciri yang membedakan antara normal science dan pra science. Paradigma yang membimbing eksperimen atau riset ilmiah tersebut didalamnya tercakup .Komponen tipikal yang secara eksplisit akan mengemukakan hukum-hukum dan asumsi-asumsi teoritis. Contoh, hukum “gerak” Newton membentuk sebagian paradigma Newtonian. Dan hukum “persamaan” Maxwell merupakan sebagian paradigma yang telah membentuk teori elektromagnetik klasik.
Cara yang baku dalam penggunaan hukum-hukum fundamental untuk berba gai tipe situasi. Instrumentasi dan teknik-tekniknya yang diperlukan untuk membuat agar hukum-hukum paradigma itu dapat bertahan dalam dunia nyata dan di dalam paradigma itu sendiri. Prinsip metafisis yang sangat umum yang membimbing pekerjaan di dalam suatu paradigma. Keterangan metodologis yang sangat umum yang memberikan cara pemecahan teka-teki science.Normal science melibatkan usaha terperinci dan terorganisir untuk menjabarkan paradigma dengan tujuan memperbaiki imbangannya dengan alam (fenomena) dengan memecahkan teka-teki science, baik teka-teki teoritis maupun teka-teki eksperimental.
Teka-teki teoritis meliputi perencanaan dan mengembangkan asumsi yang sesuai untuk penterapan statu hukum. Teka-teki eksperimental meliputi perbaikan keakuratan observasi dan pengembangan teknik eksperimen sehingga mampu menghasilkan pengukuran yang dapat dipercaya.Dalam tahap normal science ini terdapat tiga fokus bagi penelitian science faktual, yaitu :
1. Menentukan fakta yang penting
2. Menyesuaikan fakta dengan teori.
Upaya menyesuaikan fakta dengan teori ini lebih nyata ketergantungannya pada paradigma. Eksistensi paradigma itu menetapkan dan menyusun masalah-masalah yang harus dipecahkan; ( seringkali paradigma itu secara implisit terlibat langsung di dalam desain peralatan yang mampu memecahkan masalah tersebut )
3. Mengartikulasikan teori paradigma dengan memecahkan beberapa ambiguitasnya yang masih tersisa dan memungkinkan pemecahan masalah yang sebelumnya hanya menarik perhatian saja.
Jika ilmuwan gagal memecahkan teka-teki science tersebut maka kegagalan tersebut merupakan kegagalan ilmu itu sendiri bukan kegagalan paradigma. Teka-teki harus ditandai oleh kepastian akan adanya pemecahannya dari paradigma. Teka-teki yang tidak terpecahkan dipandang sebagai kelainan (anomali) bukan sebagai falsifikasi suatu paradigma.
Dalam pemecahan teka-teki dan masalah science normal, jika dijumpai problem, kelainan, kegagalan (anomali) yang tidak mendasar, maka keadaan ini tidak akan mendatangkan krisis. Sebaliknya jika sejumlah anomali atau fenomena-fenomena yang tidak dapat dijawab oleh paradigma muncul secara terus menerus dan secara mendasar menyerang paradigma, maka ini akan mendatangkan suatu krisis.


2.3.c. Krisis Revolusi
Sasaran normal science adalah memecahkan teka-teki science dan bukan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang konseptual, yang diikuti dengan munculnya teori-teori baru. Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya akan muncul gejala-gejala baru yang belum terjawab oleh teori yang ada. Apabila hal-hal baru yang terungkap tersebut tidak dapat diterangkan oleh paradigma dan anomali antara teori dan fakta menimbulkan problem yang gawat, serta anomali-anomali tersebut secara fundamental menyerang paradigma maka dalam keadaan demikian, kepercayaan terhadap paradigma mulai goyah yang kemudian terjadilah keadaan krisis yang berujung pada perubahan paradigma(revolusi).
Anomali dipandang dapat menggoyahkan paradigma jika, Menyerang hal-hal yang paling fundamental dari suatu paradigma dan secara gigih menentang usaha para ilmuan normal science untuk mengabaikannya. Mempunyai arti penting dalam kaitannya dengan beberapa kebutuhan masyarakat yang mendesak.Setiap krisis selalu diawali dengan pengkaburan terhadap paradigma yang ada serta pengenduran kaidah-kaidah riset yang normal, sebagai akibatnya paradigma baru (paradigma rival) muncul, setidak-tidaknya sebagai embrio. Krisis dapat diasumsikan sebagai pra kondisi yang diperlukan dan penting bagi munculnya teori-teori baru. Pada tahap ini diantara para ilmuan normal science terjadi sengketa filosofis dan metafisis. Walaupun kemungkinan mereka kehilangan kepercayaan dan kemudian mempertimbangkan beberapa alternatif, mereka tidak meninggalkan paradigma yang telah membawa mereka kedalam krisis begitu saja sampai diterimanya suatu paradigma baru yang berbeda dari paradigma semula. Kuhn beragumentasi bahwa, para penyususn paradigma baru (paradigma rival) hidup di dalam dunia yang berlainan sebab tidak ada argumen logis yang dapat mendemontrasikan superioritas satu paradigma atas lainnya, yang karenanya dapat memaksa seorang ilmuan yang rasional untuk melakukan perpindahan paradigma.
Peristiwa perubahan kesetiaan para ilmuan individual dari satu paradigma ke paradigma lain disamakan oleh Kuhn dengan“Gestalt Switch” (perpindahan secara keseluruhan atau tidak sama sekali). Juga disamakan dengan “religious conversion” (pertukaran agama). Tidak adanya alasan logis yang memaksa seorang ilmuan yang melepaskan paradigmanya dan mengambil paradigma yang menjadi rivalnya karena berkenaan dengan adanya kenyataan bahwa supportLists. Berbagai macam faktor terlibat dalam keputusan seorang ilmuan mengenai faedah suatu teori ilmiah. Penyusun paradigma-paradigma yang bersaing menganut berbagai perangkat standar, prinsip metafisik dan lain sebagainya yang berlainan.Oleh karena itu, para pendukung paradigma tidak akan saling menerima premis lawannya dan karenanya masing-masing tidak perlu dipaksa oleh argumen rivalnya. Menurut Kuhn, faktor-faktor yang benar-benar terbukti efektif yang menyebabkan para ilmuan mengubah paradigma adalah masalah yang harus diungkap oleh penyelidikan psikologi dan sosiologi. Karena hal itulah Kuhn dianggap sebagai seorang Relativis.Proses peralihan komunitas ilmiah dari paradigma lama ke paradigma baru yang berlawanan inilah yang dimaksud oleh Kuhn sebagai revolusi science. Oleh karena itu, menurut Kuhn, perkembangan ilmu itu tidak secara komulatif dan evolusioner tetapi, secara revolusioner,yakni membuang paradigma lama dan mengambil paradigma baru yang berlawanan dan bertentangan.
Paradigma baru tersebut dianggap dan diyakini lebih memberikan janji atas kemampuannya memecahkan masalah untuk masa depan. Melalui revolusi science inilah menurut Kuhn perkembangan ilmu akan terjadi. Dengan paradigma baru para pengikutnya mulai melihat subjek matter dari sudut pandang yang baru dan berbeda dengan yang semula, dan teknik metodologinya lebih unggul dibanding paradigma klasik dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Berdasarkan paradigma baru inilah tradisi ektra ordinari science dilakukan oleh para komunitas ilmuan yang mendukungnya dan sampai pada tahap tertentu dapat meyakinkan para pendukung paradigma klasik tentang keberadaan paradigma baru yang lebih mendekati kebenaran dan lebih unggul dalam mengatasi science di masa depan.
Apabila para pendukung paradigma klasik tetap keras kepala terhadap paradigma yang dianutnya dengan berusaha melakukan upaya pemecahan-pemecahan science normal berdasarkan paradigmanya dan berhasil mengatasi permasalahan itu maka revolusi besar dan kemajuan science tidak terjadi. Mereka tetap berada dan terperangkap dalam stage normal science dan tetap sebagai ilmuan biasa. Menurut Kuhn, tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomali), sebagai konsekwensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi tersebut

2.4. KEUNGGULAN PARADIGMA

Dalam penyelidikan historis yang cermat terhadap suatu spesialitas tertentu pada masa tertentu akan mampu menyingkap seperangkat keterangan yang berulang-ulang dan memenuhi standar tentang berbagai teori dalam penerapan konseptual, observational, dan instrumental. Dari penyingkapan tersebut menghasilkan paradigma-paradigma yang diungkapkan dalam buku-buku teks, ceramah-ceramah, dan praktek-praktek laboratorium.
Tujuan laporan-laporan riset untuk menemukan unsur-unsur yang dapat di isolasi secara gamblang atau tersirat yang oleh masyarakat kemungkinan di ringkas dari Paradigma yang lebih global dan di gunakan sebagai kaidah-kaidah dalam riset (Khun, 2008:43). Merumuskan kaidah lebih sulit daripada mencari Paradigma, diantara generalisasi yang digunakan untuk melukiskan kepercayaan masyarakat akan menimbulkan masalah. Sehingga kadang-kadang terdapat ambiguitas terhadap paradigma-paradigma masyarakat sains yang matang. Menurut Michael Polanyi(1958) kehadiran suatu paradigma tidak menyiratkan adanya seperangkat kaidah yang lengkap (Khun, 2008:44).
Paradigma bisa lebih unggul, lebih mengikat, dan lebih lengkap daripada perangkat manapun dari kaidah-kaidah untuk riset, apabila disarikan dari paradigma-paradigma tersebut. Perpaduan tradisi riset dapat dipahami sebagai aspek kaidah-kaidah dengan rincian-rincian tentang dasar bersama dalam bidang yang sesuai. Kumpulan pencarian kaidah akan membentuk tradisi riset normal yang radikal dan berkesinambungan (Khun, 2008:46).
Pemecahan yang tampak permanen terhadap karakteristik-karakteristik abstrak tertentu berupaya menghasilkan intepretasi dan rasionalisasi yang bulat tentang Paradigma. Riset yang normal dapat menentukan suatu paradigma tergantung pada perumusan kaidah-kaidah asumsi.
Suatu perangkat kaidah dan asumsi yang memberi karakter kepada tradisi menyebabkan suatu tradisi mempunyai tempat dalam pikiran ilmiah dan mempunyai pertalian kesamaan yang menjadi model bagi sains sebagai pencapaian-pencapaian yang telah mantap. Paradigma-Paradigma dapat menentukan sains yang normal tanpa adanya campur tangan kaidah-kaidah yang ditemukan.


2.5. ANOMALI DAN MUNCULNYA PENEMUAN SAINS.

Sains yang normal, yaitu Kegiatan pemecahan masalah yang baru saja diteliti dengan adanya kegiatan yang sangat kumulatif, benar-benar berhasil dalam tujuannya, perluasan secara tetap ruang lingkup dan pengetahuan sains. penemuan diawali dengan kesadaran terhadap anomali, yakni dengan ruang lingkup dan presisi pengetahuan sains (Khun, 2008:52). Penemuan diawali dengan kesadaran terhadap anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam, dengan suatu cara, telah melanggar pengharapan yang didorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal.
Kemudian ia berlanjut dengan eksplorasi yang sedikit banyak diperluas pada wilayah anomali. Dan ia hanya berakhir jika teori paradigma itu telah disesuaikan sehingga yang menyimpang itu menjadi yang diharapkan. Pengasimilasian suatu fakta jenis baru menuntut lebih dari penyesuaian tambahan pada teori, dan sebelum penyesuaian itu selesai, sebelum ilmuwan itu tahu bagaimana melihat alam dengan cara yang berbeda, fakta yang baru itu sama sekali bukan fakta ilmiah.
Penemuan-penemuan bukanlah peristiwa asing, melainkan episode yang di perluas dengan struktur yang terluang secara teratur. Penemuan di awali dengan kesadaran akan anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam dengan suatu cara telah melanggar pengharapan yang di dorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal yang kemudian dengan eksplorasi yang di perluas pada wilayah anomali dan akan berakhir jika teori paradigma telah di sesuaikan. Pengasimilasian suatu fakta jenis baru menuntut pada penyesuaian tambahan teori yang juga erat sekali hubungannya antara faktual dengan teoritis dalam penemuan ilmiah.(Khun,2008:53)


2.6. KRISIS DAN MUNCULNYA TEORI SAINS

Perubahan yang melibatkan penemuan-penemuan ini semuannya destruktif dan sekaligus konstruktif. Namun penemuan atau bukan, satu-satunya sumber paradigma destruktif – kostruktif ini berubah. Kita akan mulai meninjau perubahan yang serupa, tetapi biasanya lebih luas, yang disebabkan oleh penciptaan teori-teori baru.
Dalam memahami munculnya teori-teori baru, tidak bisa tidak kita pun akan memperluas pandangan dan pemahaman kita tentang penemuan. Meskipun demikian keterkaitan itu bukan identitas. Jika kesadaran akan anomali memainkan peran dalam munculnya jenis-jenis gejala yang baru, maka tidak akan mengejutkan bahwa kesadaran yang serupa, tetapi lebih mendalam, merupakan prasarat bagi perubahan teori yang akan diterima. Karena menuntut paradigma secara besar-besaran dan perubahan-perubahan besar dalam masalah-masalah dan tehnik-tehnik sains yang normal.
Munculnya teori-teori itu pada umumnya didahului oleh periode ketidakpastian yang sangat tampak pada profesi. Para filsuf sains telah berulang-ulang mendemonstrasikan bahwa terhadap sekelompok data tertentu selalu dapat diberikan lebih dari satu konstruksi teoritis. Sejarah sains menunjukkan bahwa, terutama pada tahap-tahap awal perkembangan suatu paradigma baru , bahkan tidak begitu sulit menciptakan alternatif seperti itu(Khun,2008:75).


BAB III

KESIMPULAN


Secara singkat pradigma dapat diartikan sebagai keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena). Dengan demikian paradigma ibarat sebuah cendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak untuk menjelajahi dunia dengan wawasannya
Skema progress sains menurut Khun adalah sebagai berikut :Pra paradigma - Pra Science - Paradigma Normal Science - Anomali - Krisis Revolusi - Paradigma Baru - Ekstra Ordinary Science- Revolusi.
Sains yang normal adalah suatu bidang ilmu yang dengan teguh berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah yang lalu, misalnya prosedur, teori, instrumentasi, yang oleh masyarakat sains tertentu dinyatakan sebagai fondasi bagi praktek sains selanjutnya.
Paradigma adalah cara pandang terhadap dunia dan contoh-contoh prestasi atau praktek ilmiah konkrit dalam sains yang normial, Paradigma juga seringkali diartikan “model” atau “pola”, namun menurut Kuhn pengertian model atau pola itu tidak sama persis maknanya dengan pengertian paradigm
Selama menjalankan riset-riset dalam sains yang normal, ilmuwan seringkali menjumpai berbagai fenomena dan masalah yang tidak dapat dijelaskan dengan teorinya. Tahap inilah yang dinamakan “anomali”.
Kesadaran akan adanya anomali yang berlangsung lama dan menembus bagian terdalam suatu ilmu, menyebabkan ilmu tersebut dikatakan dalam keadaan “krisis.
Revolusi sains oleh Kuhn dianggap sebagai episode perkembangan nonkumulatif, dimana didalamnya paradigma lama diganti seluruhnya atau sebagian oleh paradigma baru yang bertentangan.
DAFTAR PUSTAKA

Pendekatan awal filsafat ilmu, http://gudangfilsafatilmu.com.
Suatupengantaruntukmemahamifilsafatilmu, http://epistomologi.blogspot.com/2008/08.
S. Kuhn,Thomas.The Structure Of Scientific Revolutions, Bandung, PT. Remaja RodaKarya,2008, hal 43-75.
Profil Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions http://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Kuhn.
Lorenz Bagus,Kamus Filsafat, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002, hal.929. Paul Edwards(eds.), The Encyclopedia of Philosophy Volume 7, New York, The Macmillan.

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons